Minggu, 29 Mei 2011

Hepatitis B


Virus Hepatitis B (HVB), termasuk Hepadnavirus, berukuran 42-nm double stranded DNA virus dengan terdiri dari nucleocapsid core (HBc Ag) berukuran 27 mm, dikelilingi oleh lapisan lipoprotein di bagian luarnya yang berisi antigen permukaan (HBsAg). HBsAg adalah antigen heterogen dengan suatu common antigen yang disebut a, dan dua pasang antigen yang mutually exclusive yaitu antigen d, y, dan w (termasuk beberapa subdeterminan) dan r, yang menghasilkan 4 subtipe utama: adw, ayw, adr dan ayr. Penyebaran subtipe-subtipe ini bervariasi secara geografis; dikarenakan oleh perbedaan a determinan common antigen, perlindungan terhadap satu subtipe muncul untuk merangsang perlindungan terhadap subtipe yang lain dan tidak ada perbedaan manifestasi gejala klinis pada subtipe yang berbeda.


Virus Hepatitis B tampak dibawah mikroskop elektron sebagai partikel dua lapis berukuran 42 nm yang disebut partikel Dane. Lapisan luar virus ini terdiri atas antigen, yang disebut HbsAg. Antigen permukaan ini membungkus bagian dalam virus yang disebut partikel inti atau core. Partikel inti ini berukuran 27 nm dan dalam darah selalu terbungkus oleh antigen permukaan. Sedangkan antigen permukaan selain merupakan pembungkus patikel inti, juga terdapat dalam bentuk lepas berupa partikel bulat berukuran 22 nm dan partikel tubular yang berukuran sama dengan panjang berkisar antara 50 – 250 nm. 

Penularan
Semula penularan virus Hepaitis B diduga hanya secara parental, tetapi kenyataannya berbeda. Penularannya tidak saja hanya kontak langsung dengan serum penderita, akan tetapi juga tidak langsung melalui alat, hubungan intim atau kontak seksual, melalui saliva misalnya bercium – ciuman dan juga penularan vertical dari ibu penderita pengidap penyakit ke anak yang dikandungannya. Orang yang mempunyai resiko tinggi lainnya yang mudah tertular adalah mereka yang karena pekerjaannya sering berhubungan dengan darah atau penderita yang sedang terinfeksi Virus Hepatitis B juga mereka yang hidup serumah dengan penderita yang terinfeksi oleh Virus Hepatitis B.




Patogenesis
Apabila seseorang terinfeksi virus hepatitis B akut maka tubuh akan memberikan tanggapan kekebalan (immune response). Ada 3 kemungkinan tanggapan kekebalan yang diberikan oleh tubuh terhadap virus hepatitis B pasca periode akut. Kemungkinan pertama, jika tanggapan kekebalan tubuh adekuat maka akan terjadi pembersihan virus, pasien sembuh. Kedua, jika tanggapan kekebalan tubuh lemah maka pasien tersebut akan menjadi carrier inaktif. Ketiga, jika tanggapan tubuh bersifat intermediate (antara dua hal di atas) maka penyakit terus berkembang menjadi hepatitis B kronis. Pada kemungkinan pertama, tubuh mampu memberikan tanggapan adekuat terhadap Virus Hpatitis B (VHB), akan terjadi 4 stadium siklus VHB, yaitu fase replikasi (stadium 1 dan 2) dan fase integratif (stadium 3 dan 4). Pada fase replikasi kadar HBsAg, DNA VHB, HBeAg, AST dan ALT serum akan meningkat, sedangkan kadar anti-HBs dan anti HBe masih negatif. Pada fase integratif (khususnya stadium 4) keadaan sebaliknya terjadi, HBsAg, DNA VHB, HBeAg dan ALT/AST menjadi negatif/normal, sedangkan antibodi terhadap antigen yaitu : anti HBs dan anti HBe menjadi positif (serokonversi). Keadaan demikian banyak ditemukan pada penderita hepatitis B yang terinfeksi pada usia dewasa dimana sekitar 95-97% infeksi hepatitis B akut akan sembuh karena imunitas tubuh dapat memberikan tanggapan adekuat. Sebaliknya 3-5% penderita dewasa dan 95% neonatus dengan sistem imunitas imatur serta 30% anak usia kurang dari 6 tahun masuk ke kemungkinan ke dua dan ke tiga ; akan gagal memberikan tanggapan imun yang adekuat sehingga terjadi infeksi hepatitis B persisten, dapat bersifat carrier inaktif atau menjadi hepatitis B kronis.


Gejala Klinis
Secara khusus tanda dan gejala terserangnya hepatitis B yang akut adalah demam, sakit perut dan kuning (terutama pada area mata yang putih/sklera). Namun bagi penderita hepatitis B kronik akan cenderung tidak tampak tanda-tanda tersebut, sehingga penularan kepada orang lain menjadi lebih beresiko.



Diagnosis
Pemeriksaan imunologi hepatitis B secara laboratorium memegang peranan penting untuk menegakkan diagnosis maupun pemantauan terapi hepatitis B. HBsAg merupakan antigen permukaan yang terdapat dalam darah seseorang yang terinfeksi virus hepatitis B, sehingga untuk mengetahui sejauh mana keberadaan virus hepatitis B dalam tubuh dapat dilakukan pemeriksaan HbsAg.
Cara pemeriksaan HbsAg yang sekarang umum dilakukan adalah cara RPHA/PHA, ELISA dan RIA. Cara RPHA/PHA masih kurang sensitif dibanding dengan cara ELISA dan RIA, sehingga untuk mendeteksi petanda serologik yang kadarnya rendah seperti HBeAg, anti Hbe dan anti HBc dipakai cara ELISA dan RIA. Salah satu format pemeriksaan deteksi antigen yang lebih baru, dikenal sebagai Imunochromatography Assay.
Pemeriksaan HbsAg menggunakan rapid imunochromatography assay untuk mendeteksi secara kualitatif adanya Hepatitis B Surface Antigen dalam serum atau plasma secara in vitro secara cepat, mudah dan praktis. 






0 komentar:

Poskan Komentar