Tampilkan postingan dengan label kimia klinik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kimia klinik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Mei 2011

iodimetri

0 komentar
Iodimetri merupakan titrasi langsung dan merupakan metoda penentuan atau penetapan kuantitatif yang pada dasar penentuannya adalah jumlah I2 yang bereaksi dengan sample atau terbentuk dari hasil reaksi antara sample dengan ion iodida .Iodimetri adalah titrasi redoks dengan I2 sebagai penitar. Dalam reaksi redoks harus selalu ada oksidator dan reduktor ,sebab bila suatu unsur bertambah bilangan oksidasinya  (melepaskan electron ), maka harus ada suatu unsur yang bilangan oksidasinya berkurang atau turun (menangkap electron) ,jadi tidak mungkin hanya ada oksidator saja ataupun reduktor saja. Dalam metoda analisis ini , analat dioksidasikan oleh I2 , sehingga I2 tereduksi menjadi ion iodida :
A ( Reduktor ) + I2 →       A ( Teroksidasi ) + 2 I -
Iod merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat (lemah) , sehingga hanya zat-zat yang merupakan reduktor kuat yang dapat dititrasi. Indikator yang digunakan adalah amilum yang akan memberikan warna biru pada titik akhir penitaran .
I2 + 2 e - →   2 I-
Iod merupakan zat padat yang sukar larut dalam air (0,00134 mol/L) pada 25C , namun sangat larut dalam larutan yang mengandung ion iodida . iod membentuk kompleks triiodida dengan iodida :
I2 + I- →   I3-
Ion cenderung dihidrolisis membentuk asam iodide dan hipoiodit :
I2 + H2O  →        HIO + H+ + I-
Larutan standar iod harus disimpan dalam botol gelap untuk mencegah peruraian HIO oleh cahaya matahari .
2HIO      →     2 H+ + 2 I- +O2 (g)
Warna larutan iod 0,1 N cukup tua sehingga iod dapat bertindak sendiri sebagai indikator . Iod juga memberikan suatu warna ungu atau lembayung pada pelarut seperti CCl4 atau kloroform, dan kadang-kadang itu digunakan untuk mendeteksi titik akhir. Namun lebih lazim digunakan suatu larutan kanji, karena warna biru tua kompleks pati-iod berperan sebagai uji kepekaan terhadap iod. Kepekaan itu lebih besar dalam larutan sedikit asam dari pada dalam larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida . Molekul iod diikat pada permukaan beta amilosa, suatu konstituen kanji.
Larutan iod merupakan larutan yang tidak stabil , sehingga perlu distandarisasi berulang kali . Sebagai Oksidator lemah, iod tidak dapat bereaksi terlalu sempurna, karena itu harus dibuat kondisi yang menggeser kesetimbangan kearah hasil reaksi antara lain dengan mengatur pH atau dengan menambahkan bahan pengkompleks.
Larutan iod sering distandardisasi dengan larutan Na2S2O3 . selain itu bahan baku primer yang paling banyak digunakan ialah As2O3 pada pH tengah, Berdasarkan reaksi :
I2 + 2 e- →     2 I- E◦= 0,536 volt
H3AsO3 + H2O                      →    H3AsO4 + 2 H+ + 2 e- E◦= 0, 559 volt
———————————————————————–
H3AsO3 + H2O + I2 H3 →    AsO4 + 2 H+ + 2 I- E◦= -0,023 volt
Reaksi diatas menunjukkan , bahwa sebenarnya iod terlalu lemah untuk mengoksidasi H3AsO4 . Namun dengan mentitrasi pada pH cukup tinggi , maka kesetimbangan digeser kekanan ( H+ yang terbentuk diikat oleh OH- dalam larutan yang berkelebihan OH- itu) . Pada umumnya pH tersebut diantara 7 dan 9, tidak terlalu basa , karena akan mendorong disproporsional I2 terlalu banyak .Untuk mengatur pH tersebut ,larutan yang agak asam dijenuhi dengan NaHCO3 yang akan menghasilkan penahan dengan pH antara 7 dan 8.


Jumat, 27 Mei 2011

Makroskopis Urine secara Warna Urine

0 komentar
Ternyata warna urine kita bisa dijadikan alat memprediksi kondisi kesehatan kita pada saat itu, ini juga bisa dijadikan acuan bagaimana tindakan yang harus kita ambil setelahnya.
Kenali warna urine ini dan prediksi kesehatannya :
Kuning
"Urine sehat itu berwarna kuning pucat atau kuning gelap", kata konsultan ahli urologi Tim Terry. Hal ini tergantung pada tingkat hidrasi, sehingga jika urine Anda tetap berada di koridor warna kuning, Anda bisa bernapas lega.
Hijau
"Beberapa obat antiseptik dan anestesi memberikan warna semburat hijau pada urine," kata Terry. Ini karena biru metilen, pewarna yang kadang-kadang perlu diperjuangkan ginjal kita. Namun bila urine Anda berwarna hijau tidak usah terlalu khawatir.
Orange
"Ini adalah tanda disfungsi hati," jelas Terry. Jika urine Anda berwarna seperti ini biasanya dibarengi dengan tinja yang berwarna putih, bisa jadi ini karena ikterus obstruktif. Jadi segera ambil tindakan bila urine Anda berwarna orange.
Cokelat
Urine cokelat menampakkan ada masalah ginjal. "Ini bisa menjadi tanda penyakit ginjal yang serius, bahkan fistula," kata Terry. Keadaan ini biasanya karena ada kebocoran usus ke kandung kemih Anda. Segera lari ke dokter Anda untuk kasus ini.
Merah
Ini benar-benar buruk. Merah berarti ada darah dalam urine Anda, dapat mengartikan pendarahan atau kanker. "Pada orang yang berusia lebih dari 40 tahun hipotesis pertama adalah kanker kandung kemih," kata Terry. Segera hubungi dokter dan lakukan deteksi dengan cepat.


sumber:
www.yahoonews.com

Jumat, 20 Mei 2011

CAIRAN SENDI

0 komentar

Adalah cairan pelumas yang terdapat pada sendi yang dihasilkan dari ultrafiltrasi plasma dan mengandung asam hialuronat.
Asam hialuronat ini menyebabkan cairan sendi bersifat kental sehingga cairan sendi dapat berfungsi sebagai pelumas.
Indikasi pemeriksaan  : apabila terjadi penambahan cairan sendi
Cara pengambilan       : aspirasi
Syarat aspirasi : 1. Harus aseptis
                          2. Sampel ditampung dalam 3 botol steril
                                    Tabung 1 & 2  : ditambah heparin
                                    Tabung 3         : tidak ditambah heparin
Macam-macam pemeriksaan   :
A.    MAKROSKOPIS
1.      Volume
Normal : ≤ 2 ml
Jika ≥ 2 ml menunjukkan adanya kelainan
2.      Warna
Normal : ≠ berwarna / kuning muda
Abnormal : merah à darah (bisa berasal dari trauma punksi, perdarahan intraartikuler)
Cara membedakan : jika cairan diisi ke dalam 3 tabung yang sama, maka:
a. Trauma punksi         : - intensitas ketiganya tidak sama
                                      - terdapat bekuan
                                      - jika dipusing cairan atas jernih
b. Perdarahan intraartikuler     : - intensitas sama
                                                  - ≠ ada bekuan
                                                  - jika dipusing cairan atas xantocrom (warna kekuningan)
3.      Kejernihan
Normal : jernih
               Keruh (karena peradangan)
4.      Viskositas / kekentalan
Normal : kental dan panjang benang yang terbentuk min. 5 cm
Cara pengujian :   hisaplah cairan sendi ke dalam spuit 5 ml, lepas jarum kemudian biarkan cairan keluar dari spuit dan perhatikan panjang benang dengan lendir yang dapat dibentuk pada cairan saat jatuh.
5.      Bekuan
Adanya bekuan dapat diperiksa dalam tabung yang tidak diberi koagulan beberapa saat setelah tabung dibiarkan
Normal : bekuan (-)
Bila bekuan (+) à proses peradangan

B.     MIKROSKOPIS
1.      Hitung jumlah leukosit
Pengencer : NaCl 0,9 %
KH yang dipakai : KH Fuch Rosental
Normal : ≤ 200 sel / µl cairan
Penambahan cairan bukan akibat karena proses peradangan : ≤ 2000 sel / µl cairan
Penambahan cairan akibat karena proses peradangan : ≥ 2000 sel / µl cairan
2.      Hitung jenis leukosit
Untuk mengetahui jenis peradangan (netrofil) yang terjadi pada cairan sendi
Normal : jumlah PMN (netrofil segment) ≤ 25 %
3.      Hitung eritrosit
Normal : ≤ 2000 sel / µl cairan
4.      Kristal-kristal
Syarat : pada cairan sendi tidak ditambah antikoagulan dan cairan tidak boleh menyusun bekuan.
Normal : Tidak terdapat kristal-kristal
Kristal-kristal yang mempunyai arti klinis dan patologis :
a.       Kristal asam urat (arthritis urica)
b.      Kristal pyrufosfat (terdapat pada Candrakalsinosis)
c.       Kristal kolesterol (arthritis prematoit)

C.     PEMERIKSAAN KIMIA
Test yang paling penting adalah test bekuan mucin
Tujuan : untuk mengetahui kualitas dari asam hialuronat
Mucin adalah suatu kompleks yang terdiri dari asam hialuronat dan protein dimana mucin akan membeku dengan penambahan asam acetat.
Interpretasi hasil :
    1. Mucin berkualitas baik apabila terjadi bekuan kenyal dalam larutan jernih.
    2. Mucin berkualitas lumayan apabila menyusun bekuan kurang kuat dengan batas ≠ tegas dalam larutan jernih à arthritis tramatoit
    3. Mucin berkualitas buruk apabila bekuan yang terjadi berkeping dalam cairan keruh.

D.    PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGI
Tabung penampung yang berisi cairan sendi dan heparin dipusing kemudian sediment yang didapat dipakai untuk biakan dengan memakai media yang sesuai dengan tujuan pemeriksaan seperti untuk pemeriksaan Neisseria, Mycobacterium.

Sabtu, 14 Mei 2011

Cerebrospinal fluid

0 komentar
Cerebrospinal fluid (CSF), Liquor cerebrospinalis, is a clear, colorless bodily fluid, that occupies the subarachnoid space and the ventricular system around and inside the brain and spinal cord. In essence, the brain "floats" in it.
The CSF occupies the space between the arachnoid mater (the middle layer of the brain cover, meninges), and the pia mater (the layer of the meninges closest to the brain). It constitutes the content of all intra-cerebral (inside the brain, cerebrum) ventricles, cisterns, and sulci (singular sulcus), as well as the central canal of the spinal cord.
It acts as a "cushion" or buffer for the cortex, providing a basic mechanical and immunological protection to the brain inside the skull.
It is produced in the choroid plexus.

circulation
CSF is produced in the brain by modified ependymal cells in the choroid plexus (approx. 50-70%), and the remainder is formed around blood vessels and along ventricular walls. It circulates from the lateral ventricles to the foramen of Monro (Interventricular foramen), third ventricle, aqueduct of Sylvius (Cerebral aqueduct), fourth ventricle, foramina of Magendie (Median aperture) and foramina of Luschka (Lateral apertures); subarachnoid space over brain and spinal cord; reabsorption into venous sinus blood via arachnoid granulations.
It had been thought that CSF returns to the vascular system by entering the dural venous sinuses via the arachnoid granulations (or villi). However, some have suggested that CSF flow along the cranial nerves and spinal nerve roots allow it into the lymphatic channels; this flow may play a substantial role in CSF reabsorbtion, in particular in the neonate, in which arachnoid granulations are sparsely distributed. The flow of CSF to the nasal submucosal lymphatic channels through the cribriform plate seems to be specially important.


Functions

CSF serves four primary purposes:
  1. Buoyancy: The actual mass of the human brain is about 1400 grams; however, the net weight of the brain suspended in the CSF is equivalent to a mass of 25 grams. The brain therefore exists in neutral buoyancy, which allows the brain to maintain its density without being impaired by its own weight, which would cut off blood supply and kill neurons in the lower sections without CSF.
  2. Protection: CSF protects the brain tissue from injury when jolted or hit. In certain situations such as auto accidents or sports injuries, the CSF cannot protect the brain from forced contact with the skull case, causing hemorrhaging, brain damage, and sometimes death.[9]
  3. Chemical stability: CSF flows throughout the inner ventricular system in the brain and is absorbed back into the bloodstream, rinsing the metabolic waste from the central nervous system through the blood-brain barrier. This allows for homeostatic regulation of the distribution of neuroendocrine factors, to which slight changes can cause problems or damage to the nervous system. For example, high glycine concentration disrupts temperature and blood pressure control, and high CSF pH causes dizziness and syncope.
  4. Prevention of brain ischemia: The prevention of brain ischemia is made by decreasing the amount of CSF in the limited space inside the skull. This decreases total intracranial pressure and facilitates blood perfusion.
 sumber : www. wikipedia.org